A. Sejarah Berdirinya Dinasti
Abbasiyah
Menjelang
akhir daulah Umayyah I, terjadi kekacauan yang antara lain disebabkan[1] :
1.
Penindasan terus menerus terhadap
pengikut Ali dan Bani Hasyim pada umumnya;
2.
Merendahkan kaum muslimin yang bukan
bangsa arab sehingga mereka tidak diberi kesempatan dalam pemerintahan.
3.
Pelanggaran terhadap hak-hak asasi
manusia dengan cara terang-terangan.
Antara
daulah Umayyah dan daulah Abbasiyah terdapat beberapa perbedaan, antara lain[2] :
1.
Umayyah masih menggunakan dan
mempertahankan dan menggunakan keturunan arab murni, baik khalifah maupun
pegawai dan rakyatnya. Akibatnya, terjadilah semacam kasta dalam negara yang
masih murni menduduki kelas tertinggi disamping orang campuran dan orang asing
yang disebut mawali. Sedangkan pada masa dinasti Abbasiyah istilah mawali
lenyap karena pada masa abbasiyah tedak terlalu ketat, bahkan para mentri,
gubernur, panglima dan pegawai diangkat dari golongan mawali, terutama
keturunan persia.
2.
Ibu kota Umawiyyah, Damaskus masih
bercorak jahiliah yang ditaburkan oleh kemegahan Byzantium dan persia.
Sedangkan ibu kota Abbasiyah, Bagdad sudah bercelup persia secara keseluruhan
dan dijadikan kota internasional.
3.
Umawiyah bukan keluarga Nabi, sdangkan
Abbasiyah mendasarkan kekhalifahan pada keluarga nabi (Abbas adalah paman nabi).
Pada awal pergerakannya mereka membentuk gerakan Hasyimiah yang mengimpun
gerakan bani Hasyim yang terdiri dari Alawiyah dan Abbasiayh, walaupun yang
menjadi khalifah adalah keturunan Abbas sedangkan keturunan Al ditindas.
4.
Kebudayaan Umawiyah masih bercorak arab
jahiliah dengan kemegahan bersyair dan berkisah. Sedangkan kebbudayaan
Abbasiyah membuka pintu terhadap semua kebudayaan yang maju, sehingga
terjadilah percampuran kebudayaan arab, persia, yunani dan hindu.
5.
Khalifah Umawiyah gemar dengan syair dan
kasidah seperti kemegahan pada zaman kesusastraan arab jahiliah. Sedangkan pada
masa Abbasiyah terutama pada masa Abbasiyah I, gemar kepada ilmu pengetahuan
akibatnya ilmu pengetahuan menajdi pesat dan bahkan mencapai keemasannaya.
B. Perkembangan Pendidikan Pada Masa
Abbasiyah
Pada
masa Abbasiyah pendidikan dianggap sangat penting dan diutamakan, itu sebabnya
dimasa khalifah Abbasiyah Islam mencapai kecemerlangannya, bahkan Islam menjadi
kiblat pendidikan pada masa itu.
1.
Faktor yang mendorong kemajuan
pendidikan[3]
a. Adapun
kekeayaan yang melimpah dari hasil kharaj,
baik pertanian maupun perdagangan. Dengan dana dari kekayaan tersebut, para
khalifah dengan mudah merealisasi perencanaannya, didalam dan diluar negeri,
serta pengembangan ilmu pengetahuan.
b. Kecendrungan umat islam dalam menggali dan
mengembangkan ilmu pengetahuan besar sekali, maka banyaklah ulam disetiap kota
pada masa itu.
c. Kondisi
masyarakat irak, yang mendesak perlunya suatu ilmu baru karena sungai dajlah
dan furat menuntut penataan sistem pengairan yang lebih baik serta pengelolaan
perpajakan yang lebih sempurna.
d. Orang
islam pada saat itu telah bercampur baur dengan orang-orang persia, terutama mawali, mereka inilah yang memindahkan
ilmu pengetahuan dan filsafat dari beberapa mereka kedalam bahasa arab.
e. Bagdad
sebagai pusar pemerintahan, lebih dahulu maju dalam ilmu pengetahuan, dari pada
damaskus pada masa itu.
f. Lancarnya
hubungan kerja sama dengan negara-negara majulainnya, seperti; India,
Bizantium, dan sebagainya.
2.
Lembaga-lembaga pendidikan pada masa
Daulah Abbasiyah[4]
a. Kutab atau
maktab
Kutab
atau
maktab, berasal dari bahasa kutaba yang berarti menulis atau tempat
menulis. Namun akhirnya memiliki pengertian sebai lembaga pendidikan dasar. Kutab pada masa Abbasiyah merupakan
kelanjutan dari kuttab pada masa
Daulah Umayyah. Para ahli sejarah pendidikan islam sepakat bahwa keduanya
merupakan istilah yang sama, dalam arti lembaga pendidikan Islam tingkat dasar
yang mengajarkan membaca dan menulis, kemudian meningkat pada pengajaran al-Qur’an dan pengetahuan agama tingkat
dasar.
Sedangkan kurikulum
yang digunakan di kuttab ini berorientasi pada al-Qur’an sebagai suatu textbook.
Hal ini mencakup pengajaran membaca dan menulis, kaligrafi, gramatikal bahasa
arab dan sejarahnya, khususnya yang berkaitan dengan nabi Muhammad. Dan
mengenai waktu belajar di kuttab, dimulai pada hari sabtu pagi sampai dengan
hari kamis siang. Dengan materi sebagai berikut;
1. al-Quran dari pagi samapai dengan Dhuha
2. Menulis,
dari Dhuha samapi dengan Zuhur, dan
3. Gramatikal
bahasa arab, matematika dan sejarah dari Zuhur sampai dengan siang.
b. Masjid
Fungsi
masjid dijelaskan sebagaimana didalam literatur, bukan hanya sekedar
berfungsi sebagai tempat beribadah saja,
melainkan juga berfungsi sebagai pusat kegiatan pendidikan dan kebudayaan. Dan
sistem pembelajaran didalam masjid berbentuk halaqah, berkembang dengan baik pada masa Abbasiyah, sejalan dengan
munculnya berbagai macam-macam pengetahuan agama, sehingga terkadang di dalam
suatu masjid besar terdapat beberapa halaqah
dengan materi pembelajaran berbeda, seperti; nahu, ilmu qalam, fiqh dan lain-lain.
Masjid
lain juga yang terkenal dengan pendidikannya yakni masjid jami’ di Damaskus. Di
dalamnya terdapat halaqah-halaqah pembelajaran
bagi para murid, guru yang mengajar mendapatkan gaji yang lumayan. Yang
menjadikan masjid sebagai tempat pusat kegiatan pendidikan ialah karen materi
pembelajaran yang diajarkan pada tahun-tahun pertama masuknya islam, adalah
mata pelajaran agama yang tentu saja erat pertaliannya dengan masjid. Bahkan
lebih dari itu masjid pada saat itu juga digunakan sebagai tempat peradilan,
tempat tentara berkumpul dan lain-lain.
c. Toko-toko
buku (al-Hawarit al-Waraqin)
Selama
kejayaan dalah Abbasiyah toko-toko buku berkembang dengan pesat seiring dengan
pesatnya ilmu pengetahuan. Uniknya, toko-toko ini tidak hanya menjadi pusat pengumpulan
dan penyebaran (penjualan). Buku-buku, tetapi menjadi pusat studi dengan
lingkaran-lingkaran studi berkembang di dalamnya.pemilik tpko buku biasanya
menjadi tuan rumah dan kadang-kadang berfungsi sebagai muallim dalam lingkaran studi (halaqah)
yang memimpin pengajian, sebagian yang memiliki toko buku adalah ulama. Hal
ini menunjukan betapa antusiasnya umat islam masa itu dalam menuntut ilmu.
d.
Perpustakaan (al-muktabah)
Salah
satu perpustakaan yang terkenal pada saat itu yaitu Bait al Hikmah, didirikan
oleh harun al Rasyid. Perpustakaan dikatakan lembaga pendidikan karena
sebagaimana diketahui, karena pada masa itu, bagi masyarakt umum pencinta ilmu,
tentu memanfaatkan perpustakaan sebagai saran memperoleh ilmu pengetahuan, dan
untuk selanjutnya dikembangkan.
Perpustakaan tersebut, dikelola oleh beberapa
ahli dari berbagai latar belakang agama dan kebudayaan, seperti Yuhan ibn
Maskawaih (Nasrani Suryani), menterjemahkan buku kedokteran lama, Abu Nubikht
(Persia), menterjemahkan buku-buku bahasa persia, Alan al Syu’ubi (persia)
menterjemahkan buku-buku yunani dan persia, semuanya kedalam bahasa Arab.
Dimasa
dimasa al-Ma’mun, perkembangan perpustakaan menjadi semakin pesat lagi, setelah
kontak dengan beberapa daerah dalam usaha dalam memperoleh buku-buku untuk
diterjemahkan ke dalam bahasa arab. Mereka yang bekerja di dalam kegiatan menterjemah ini diantaranya; al
Hajjaj ibn Matar, Ibn al Bathariq, Salman dan yatmi hunain ibn ishak.
Disamping
perpustakaan umum diatas terdapat juga perpustakaan milik pribadi, yang sempat
dipakai pula oleh masyarakat sebagai saran pendidikan, seperti perpustakaan al
Fath ibn Chagan, perpustakaan Hunain ibn Ishak dan lain-lain.
e. Salun
Kesusastraan ( Bait al Ulama’)
Salun
kesusastraan adalah suatu majelis khusus yang diajarkan oleh para khalifah
untuk membahas berbagai macam ilmu pengetahuan. Majelis seperti ini sebenarnya
sudah ada pada zaman Khulafah al Rasyidin
dan diadakan dimasjid. Namun pada masa Umayyah, pelaksanaan dipindah ke
istana dan hanya dihadiri oleh orang-orang tertentu saja. Salun sastra yang
berkembang adalah disekitar para khalifah yang berwawasan ilmu dan para
candikiawan sahabatnya. Majelis sastra ini merupakan tempat pertemuan untuk
saling bertukar pikiran tentang sastra dan ilmu pengetahuan.
Pada
masa Harun al Rasyid (170-193) majelis sastra ini mengalami kemajuan yang
luarbiasa, karena khulafah sendiri adalah ahli ilmu pengetahuan yang cerdas,
sehingga beliau aktif didalamnya. Pada saat itu beliau sering mengadakan perlombaan
antara ahli syair, perdebatan antara fukaha dan juga saimbara antara ahli
kesenian dan pujangga.
f. Rumah
para Ilmuan (Bait al-Ulama’)
Beberapa
ilmuan menjadikan rumh mereka sebagai lembaga pendidikan, antara ain seperti
rumah Abi Muhammad ibn Hatim al-Razil al-Hafiz dalam mempelajari ilmu-ilmu Hadits. Rumah ibn Sina dalam mempelajari
ilmu kedokteran, dan rumah Abi Sulaiman al Sajastani dalam mepelajari ilmu
filsafat dan ilmu mantik.
Diadakannya
rumah beberapa para ilmuan ini sebagai lembaga pendidikan dilatarbelakangi
kemungkinan pertimbangan sebagai berikut :
a. Rumah
ini dapat digunakan untuk membicarakan hal-hal yang bersifat khusus.
b. Situasi
dan kondisi guru yang mengajar agak terbatas, misalnya terlalu sibuk, lelah,
agak tua, dan lain-lain.
c. Adanya
anggapan, bahwa mendatangi guru untuk belajar lebih baik dari pada guru yang
mendatangi murid.
g. Observatorium
dan Rumah Sakit (al Bimaristan)
Sebagaimana
halnya perpustakaan, observatorium juga difungsikan sebagai lembaga pendidikan
atau sebagai tempat untuk transmisi ilmu pengetahuan. Di observatorium ini
sering diadakan kajian-kajian ilmu pengetahuan dan filsafat yunani. Para ilmuan
melakukan pengamatan dan riset di observatorium tersebut.
Selain
observatorium, rumah sakit juga difungsila sebagai lembaga pendidikan, terutama
bagi calon dokter atau orang yang sedang menuntut ilmu kedokteran. Dan rumah
sakit juga dgunakan sebagai tempat mereka memperaktekan ilmu yang secara
teoritis mereka terima. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa observatorium dan
rumah sakit memiliki andil yang besar dalam perkembangan lemmbaga pendidikan
Islam.
h. Al-Ribath
Ribath adalah
tempat kegiatan kaum sufi untuk menjauhkan diri dari hal kehidupan duniawi dan
mengkonsentrasikan diri untuk semata-mata beribadah kepada Allah SWT. Juga
memberikan perhatian terhadap keilmuan yang di oleh syeh yang terkenal dengan ilmu dan kesalehannya.
Ribath
biasanya dihuni oleh orang-orang miskin yang sam-sam melakukan kegiatan sufidtik. Bangunan ribath mereka jadikan tempat tinggal untuk beribadah dan
mengajarkan pelajaran agama.
i.
Al-Zawiyah
Zawiyah merupakan
tempat berlangsungnya pengajian-pengajian yang mempelajari dan membahas
dalil-dalil naqliyah dan aqliyah yang berkaitan dengan aspek
agama serta digunakan oleh para sufi sebagai tempat untuk halaqah berzikir dan
tafakur untuk mengingat dan merenungkan keagungan Allah SWT.
Demikianlah
berbagai jenis lembagai pendidikan islam yang bekembang pada masa Daulah
Abbasiyah, walaupun secara fisik lembaga pendidikan sebagaimana yang telah
dijelaskan diatas, belum dapat dikatakan sama dengan persekolah yang datang
kemudian, namun dari segi hasil, justru dapat melahirkan para ilmuan-ilmuan dan
candikiawan yang jenius dan sangat terkenal, bukan hanya pada masanya namun
juga mereka terkenal setelah masa sesudahnya.selain itu, dapat pula dipahami bahwa
para ilmuan dan candikiawan pada masa itu telah menyadari betapa pentingnya
pendidikan, dan mereka juga berusaha untuk mengembangkannya kepada masyarakat
tanpa mengharapkan imbalan.
C. Ilmu yang Tumbuh dan Berkembang Pada
Masa Abbasiyah
Kemajuan
yang dicapai oleh Daulah Abbasiyah, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan
merupakan puncak kejayaan islam sepanjang sejarah.
1.
Ilmu
Agama
a. Ilmu
Tafsir
Tumbuh
dan berkembang ilmu tafsir dalam abad ke tiga Hijriah dalam rangka memenuhi
kebutuhan dasar yang mendesak, untuk memahami arti dan maksud ayat-ayat al-Qur’an, akibat semakin bertambahnya
pemeluk agama Islam yang bukan Arab.[5]
Terdapat
dua metode tafsir pada masa itu, yaitu :
1) Tafsir
bi al Ma’sur yaitu menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an, al-Hadits, riwayat
sahabat dan tabi’in.
2) Tafsir
bi al Ra’yi, yaitu menafsirkan al-Qur’an dengan akal pikiran.
b. Ilmu
Hadits
Pembukaan
Hadits secara lebih sempurna, baru mulai
dilakukan pada masa ini. Beberapa karya besar yang terkenal seperti Shahih al-Bukhari, Shahi al-Muslim, Sunan
Ibn Majah, Sunan Abu Daud, Sunan al-Tirmizi, Sunan al-Nasai, dan al
muwatha’ oleh imam Malik.
Karya-karya
yang datang kemudian lebih banyakbersumber dari kitab-kitab tersebut. Kalaupun
ada yang melakukan pengumpulan atau penulisan langsung, sedikit sekali
jumlahnya.
c. Ilmu
Qira’at
Lahirnya
ilmu Qira’at ini karena adanya perbedaan lahjat
di dalam membaca al-Qur’an antara orang islam Arab dan orang islam yang
bukan berasal dari Arab, perbedaaan huruf al-Qur’an pada mushaf Usman yang tidak bertitik dan berbaris. Dalam
keanekaragaman itulah, tampil Ibn Musa al-Bashini (w. 170 H) sebagai orang
pertama yang membah bacaan dari segi dasar sanad yang dianut masing-masing.
Beberapa
tokoh qira’ah terkenal yang lahir pada masa itu antara lain seperti Nafi’, Ibn
Kasir, Ibn Amis, Abu Amru, Ashim Hamzah, Al Kasai, Yahya Ibn Al-Haris,
al-Zimani, Hamzah Ibn Habib, dan lain-lain.
Pada
masa itu pula lahir Qira’ah baru,
yakni Tilawat al-Qur’an. Ada yang
berpendapat bahwa qira’ah ini sudah ada pada masa Nabi. Para ulam berbeda
pendapat pembacaan al-Qura’n dengan
tilawah, antar lain ; Imam Malik melarangnya, sedangkan Imam syafi’i
membolehkannya.[6]
d. Ilmu
Kalam
Ilmu
ini secara praktis, sesungguhnya sudah ada sebelumnya, namun barulah merupakan
suatu ilmu yang berdiri sendiri dengan pembahasan yang sistematis dan mendalam
pada masa Daulah Abbasiyah ini.
Munculnya
ilmu ini mempunyai kaitan erat dengan masuknya bangsa-bangsa yang telah
berperadaban ke dalam Islam, yang menuntut menjelaskan aqidah Islamiah, tidak
cukup dengan dasar-dasar logika dan pemikiran filsafat saja. Selain itu,
dimaksudkan pula untuk mempertahankan islam dari serangan luar dan sekaligus
membawa perubahan besar dalam sejarah pemikiran aqidah Islam.
e. Ilmu
Fiqh
Munculnya
ilmu fiqh ini sehubungan dengan timbulnya berbagai masalah dikalangan umat Islam pada abad kedua
Hijriah. Jarak antara lahirnya islam dengan Daulah Abbasiyah cukup jauh. Dalam
hal semacam ini diperlukan adanya kepastian syara’ sehubungan dengan
masalah-masalah yang timbul dikaangan umat Islam tersebut. Maka munculah
beberapa aliran seperti Al Auziah dan Al Sauriyah,, namun aliran ini tidak
bertahan lama, karena ajaran-ajarannya tidak dibukukan dengan baik.
Masa-masa
selanjutnya menunjukan betapa pesatnya perkembangan Ilmu Fiqh tersebut, dengan munculnya beberapa tokoh yang mahsyur yakni
imam Abu Hanifah (699-767), rumusan Fiqhnya
berpegang pada al-ra’yu. Imam Malik
(715-795), rumusan fiqhnya berpegang
pada zhahir al-nash dan ra’yu. Beliau
juga dikenal sebagai peletak daasar Ushul
al-Fiqh, dan Imam Ahmad bin Hambal (780-855), rumusan fiqhnya berpegang pada zhahir
al-nash.
f. Ilmu
Tasawwuf
Orang
pertama yang memakai kata sufi (tasawuf) adalah Abu Hasyim al-Kufi (w. 150 H).
Imam al-Ghazali (w. 502 H) . Kemudian menggabungkannya melalui karya-karyanya,
antara lain Ihya Ulum al-Din dan
masih banyak lagi tokoh-tokoh lainnya. Mereka para ahli tasawwuf ini
menyampingkan urusan duniawi, hidup dalam kesederhanaan, karena demikian,
mereka akan merasa dekat dengan Tuhan.
g. Ilmu
Tarikh
Muhammad
Ibn Ishak (w. 152 H) yang mula-mula menuliskan
Tarikh Nabi Muhammad SAW, kemudian diringkaskan oleh Ibn Hisyam (218 H)
dengan bukunya Syarh Ibn Hisyam. Penulis-penulis
buku Tarikh lainnya pada masa ini ialah Ibn Abi Mahruf, Al Waqidi, Ibn Al Kilbi,
Ibn Sa’ad Ibn A Hikam, Ibn Qutaibah, dan Nubkhiti.
h. Ilmu
Nahwu
Abu
Al Aswad al Duali yang hidup pada masa Daulah Abbasiyah, dikenal sebagai
peletak dasar ilmu ini, yang diperolehnya dari Ibn Al Abi Thalib. Setelah
pemerintahan dipegang oleh Abbasiyah, perkembangannya semakin lebih pesat lagi.
Di Bashrah dibangun madrasah yang khusus membahas ilmu ini. Beberapa tokohnya
yang masyur seperti Sibawaihi, Isa Ibn Umar, Al Saqafi, Abu Amr Ibn Al-A’la,
dan lain-lain. Dan di Kufah, terkenal pula seperti Al Kasai, Abu Ja’far al
Ruas, dan lain-lain.
2.
Ilmu-ilmu
Umum
a. Ilmu
Filsafat
Ilmu
ini muncul dan berkembang pada masa Daulah Abbasiyah. Ilmu ini diperoleh dari
penterjemahan buku-buku Filsafat Yunani yang terdapat diberbagai negari,
seperti Mesir, Syiria, Mesopotamia, dan persia, bahkan dari yunani sendiri.
Para
candikiawan muslim bukan hanya menguasai ilmu pengetahuan dan filsafat yang
mereka pelajari dari bulu-buku yunani tersebut, tetapi menambah ke dalamnya hasil-hasil penyelidikan
yang mereka lakukan sendiri dalam lapangan ilmu pengetahuan dan hasil pemikiran
mereka dalam lapangan filsafat.
b. Ilmu
Falak
Orang
pertama yang menelaah ilmu ini, ialah Muhammad Ibn Ibrahim al-Farazi. Diawali
dengan lahirnya buku al-Shindu Hindu pada
masa Khalifah al-Mansur, kemudian
berkembang pada masa Al Ma’mun dengan dibangunnya teropong bintang dan
diterjemahkannya buk Yunandi al-Magiste, karya
Potelemeus oleh Husain Ibn Ishak.
Pada
masa ini pula dikemukakan teori tentang terjadinya gerhana, dan tidak tampaknya
matahari di daerah kutub. Teori ini telah disempurnakan dengan alat pengukur
dan kecepatan perjalanan bintang atau astrologi.
Beberapa tokoh yang terkenal dalam ilmu ini, seperti : al-Faragni, al-Battani,
al-Khawanizmi, al-Biruni, Omar Khayyam, Yahya Ibn AbuMansur dan lain-lain.
c. Ilmu
Kedokteran
Ilmu
ini mulai terkenal pada masa Daulah Abbasiyah dengan hadirnya George Bakhtisyu
ke istana, atas permintaan al-Manysur untuk mengobati dirinya. George Bakhtisyu
menetap di baghdad dan menyusun ilmu kedokterannya dalam bahsa Arab. Pada masa
khalifah al-Mansyur, pernah diadakan pertemuan ilmiah dibidang kedokteran, dan
penterjemahan buku-buku kedokteran yunani, persia, dan india kedalam bahasa
Arab. Pertemuan ini dihadiri oleh dokter-dokter dari Syiria, Mesir, India, dan
Bizantium.
Ahi-ahli
kedokteran yang terkenal pada masa itu, antara lain Ali Abu Ibn Sina, yang
mendapat julukan prince of phisicians.
Karya tulisannya Al Qanun fi al-thib,
merupakan refrensi standar untuk kediokteran dinegara-negara Islam dan Eropa
pada masa itu dan sesudahnya.
Banyak
sumbangan yang telah diberikan para ilmuan muslim dalam bidang ini, baik dalam
ilmu kedokteran maupun seni penyambutan dan pelayanan kesehatan masyarakat.
d. Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam
Ilmu
ini telah dipakai secara praktis, ketika membuat perencanaan pembangunan kota
Baghdad pada masa Al Mansur. Pada masa Al-Mahdi, Jabir Ibn Hayyam (721-815)
telah menulis ilmu kimia, pertambangan dan batua-batuan yang dimanfaatkan orang
Barat dikemudian hari.
e. Fisika
Ada
suatu hal yang merupakan ciri khas dari karya ahli fisika muslim pada masa itu,
yakni terpadunya kepekaan terhadap azas-azas teori dasar yang mencermuinkan
kekaguman dan penghormatan terhadap ciptaan Tuhan.
Ahli
fisika muslim yang terkenal, antara lain seperti al-Biruni dan ibn Sinayang
bekerja sama dalam menganalisa konsep-konsep pisika pada masa itu.
Demikian
perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Daulah Abbasiyah yang telah mencapai
puncaknya, namun kemajuan yang dicapai oleh Abbasiyah tidak terlepas dari peran
Bani Umayyah sebagai perinis kemajuan
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
A. Sejarah Berdirinya Dinasti
Abbasiyah
Berdirinya
Daulah Abbasiyah karena terjadinya penindasan terus menerus terhadap pengikut
Ali dan Bani Hasyim pada umumnya, merendahkan kaum muslimin yang bukan bangsa
arab sehingga mereka tidak diberi kesempatan dalam pemerintahan dan pelanggaran
terhadap hak-hak asasi manusia dengan cara terang-terangan.
B. Perkembangan Pendidikan Pada Masa
Abbasiyah
Pada
masa Daulah Abbasiyah pendidikan dianggap sangat penting, dan pada masa itu
pula banyak berdirinya tempat-tempat pendidikan, yakni
1. Kutab
atau Maktab
2. Masjid
3. Toko-toko
Buku
4. Perustakaan
5. Salun
Kesustraan
6. Rumah
Para Ilmuan
7. Observatorium
dan Rumah sakit
8. Al-Ribath,
dan
9. Al-zawiyah
C. Ilmu yang Tumbuh dan Berkembang
Pada Masa Abbasiyah
pada
masa ini pula banyak ilmu baru yang diciptakan oleh para candikiawan, yakni
Ilmu Agama dan Ilmu Umum.
1.
Ilmu Agama
a. Ilmu
Tafsir
b. Ilmu
Hadits
c. Ilmu
Qira’at
d. Ilmu
Kalam
e. Ilmu
Fiqh
f. Ilmu
Tasawwuf
g. Ilmu
Tarikh, dan
h. Ilmu
Nahwu
2.
Ilmu Umum
1. Ilmu
Filsafat
2. Ilmu
Falak
3. Ilmu
Kedokteran
4. Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam, dan
5. Fisika
DAFTAR
PUSTAKA
1.
USUT QARDANI. Meluruskan Sejarah Umat
Islam
2.
Ramayulis. Sejarah Pendidikan Islam
3.
Musyrifah Sunanto. Sejarah Islam Klasik
[1]
Musyrifah sunanto “sejarah islam klasik”
(JAKARTA: Kencana.2007) Hal. 47.
[2] Ibid.
Hal. 48-49.
[3]
Ramayulis”sejarah pendidikan islam” (JAKARA:radar jaya ofset). Hal. 76-77.
[4] Ibid.
Hal. 77-83
[5]Musyrifah
sunanto “sejarah islam klasik” (JAKARTA:
Kencana.2007) Hal. 58
[6]
Ramayulis.Op,Cit. Hal. 87
0 Response to "dinasti abbasiyah"
Post a Comment